MEDIASATYA.CO.ID – Bagaimana jika kejujuran justru menjadi pihak yang kalah? Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam pertunjukan teater ‘Benar Itu Kalah’, karya terbaru UKM Teater Kacamata Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda.
Mereka mengajak penonton menyelami wajah lain kehidupan masyarakat kecil di tengah jerat kemiskinan, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Pementasan yang menjadi bagian dari Pentas Tahunan Teater Kacamata ini akan digelar pada Sabtu, 27 Juni 2026, di Gedung Rinjani, Taman Budaya Kalimantan Timur, Samarinda.
Di bawah arahan Putri Nazariah Azhari yang sekaligus bertindak sebagai penulis naskah, “Benar Itu Kalah” tidak sekadar menawarkan hiburan panggung.
Pertunjukan ini hadir sebagai refleksi sosial yang menyoroti kenyataan bahwa kebenaran kerap tersisih ketika berhadapan dengan kepentingan, keserakahan, dan kekuasaan.
Cerita berpusat pada sebuah keluarga sederhana di pedesaan yang kehilangan mata pencaharian akibat ekspansi perusahaan perkebunan.
Di tengah tekanan ekonomi, mereka juga harus menghadapi praktik korupsi yang menggerogoti koperasi desa, ruang yang semestinya menjadi penopang kesejahteraan masyarakat.
Situasi tersebut membawa tokoh Sekar ke dalam dilema yang tidak mudah.
Desakan hidup membuatnya dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan kejujuran atau menempuh jalan pintas yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Di sisi lain, hadir Lara, sosok yang menjadi suara hati dan terus berupaya menjaga prinsip kebenaran, meski pada akhirnya tidak mampu mengubah pilihan adiknya.
Melalui konflik kedua tokoh itu, “Benar Itu Kalah” menggambarkan kenyataan yang akrab dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, ketika sistem yang rapuh membuat orang baik berada pada posisi yang sulit, sementara penyalahgunaan wewenang justru memperoleh ruang untuk berkembang.
“Pertunjukan ini juga mengajak penonton melihat bahwa korupsi bukan hanya persoalan hukum atau angka kerugian negara, tetapi memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Hilangnya pekerjaan, memburuknya kesejahteraan keluarga, hingga pudarnya kepercayaan terhadap lembaga sosial menjadi rangkaian akibat yang ditampilkan melalui pendekatan dramatik.
Lebih jauh, pementasan ini menjadi kritik terhadap lemahnya sistem pengawasan yang memungkinkan praktik korupsi terus berlangsung dan pada akhirnya paling banyak merugikan masyarakat kecil.
Pesan yang dibangun tidak berhenti pada kecaman terhadap pelaku, tetapi juga mengajak publik merenungkan pentingnya menjaga integritas, menolak penyalahgunaan kekuasaan, serta membangun keberanian untuk berpihak pada kebenaran.
Ketua UKM Teater Kacamata UWGM, Andreas, mengatakan bahwa pentas tahunan bukan hanya ruang bagi mahasiswa untuk berkarya, tetapi juga wadah menghadirkan diskusi publik melalui bahasa seni pertunjukan.
“Dengan mengusung tema yang dekat dengan realitas sosial Indonesia, “Benar Itu Kalah” diharapkan tidak hanya meninggalkan kesan artistik, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi bagi penonton tentang arti kejujuran, keadilan, dan keberanian mempertahankan nilai-nilai moral di tengah tekanan kehidupan,” ungkapnya.
Bagi Teater Kacamata Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, panggung bukan sekadar tempat menampilkan lakon.
Ia adalah ruang untuk menyuarakan kegelisahan zaman, ketika pertanyaan terbesar justru muncul setelah tirai pertunjukan ditutup, apakah dalam kehidupan hari ini, kebenaran masih memiliki kesempatan untuk menang. (*)
















