60 Pelajar, 15 Sekolah, Satu Panggung: Regenerasi Teater Kaltim Menemukan Jalannya

banner 400x130

MEDIASATYA.CO.ID – Tepuk tangan panjang menggema di Gedung Bahimung UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur, Kamis (6/8/2026). Satu per satu pemain saling berpelukan usai menuntaskan adegan terakhir.

Beberapa masih larut dalam emosi tokoh yang mereka perankan, sementara yang lain tak mampu menyembunyikan senyum lega.

banner 400x130

Sulit membayangkan, tiga hari sebelumnya mereka bahkan belum pernah berkarya bersama.

Namun siang itu, 60 pelajar dari 15 SMA, MA, dan SMK di Samarinda berhasil membuktikan bahwa waktu bukan penghalang untuk melahirkan sebuah pertunjukan.

Mereka menyuguhkan tiga pementasan mini sebagai penutup Pelatihan Teater bagi Pelajar yang diselenggarakan UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur.

Bukan sekadar pertunjukan, melainkan hasil dari sebuah proses kreatif yang padat. Dalam waktu hanya tiga hari, para peserta harus saling mengenal, membangun kekompakan, mencari gagasan, menulis naskah, menyusun konsep penyutradaraan, berlatih akting, hingga akhirnya berdiri percaya diri di atas panggung.

Di balik proses itu, para pelajar mendapat pendampingan langsung dari para praktisi yang telah lama menghidupi dunia seni pertunjukan Kalimantan Timur.

Materi keaktoran dibawakan tokoh teater senior Kaltim, Awang Khalik, S.Sn. Penulisan naskah dipandu penulis sekaligus sineas muda Navis Kipo, sementara materi penyutradaraan disampaikan sutradara teater Fachri Mahayupa yang telah meraih berbagai prestasi di tingkat nasional.

Bagi Fachri Mahayupa, hasil akhir para peserta bahkan melampaui perkiraannya. Ia menilai para pelajar mampu melahirkan gagasan yang segar dan mengolahnya menjadi pertunjukan yang utuh meski seluruh proses kreatif berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.

“Pertunjukan mereka layak diapresiasi. Dalam tiga hari mereka mampu membangun ide, bekerja sama, lalu menyajikannya menjadi karya yang utuh. Potensi seperti ini harus terus dijaga,” ujarnya.

Menurut Fachri, pelatihan seperti ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan teknik bermain teater.

Program tersebut menjadi bagian penting dari proses regenerasi pelaku seni di Kalimantan Timur.

Ia menilai kehadiran UPTD Taman Budaya menjadi langkah nyata dalam mewariskan nilai-nilai seni dan budaya kepada generasi muda, sekaligus mendorong mereka mengolahnya menjadi karya yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pandangan serupa disampaikan Ahmad Muslih Navis. Menurutnya, kemampuan peserta menyerap materi dalam waktu singkat menjadi kejutan tersendiri.

Ia melihat para pelajar mampu menerjemahkan teori yang diberikan selama pelatihan ke dalam karya yang memiliki karakter dan gagasan masing-masing.

Navis berharap pembelajaran mengenai seni peran, penulisan naskah, dan penyutradaraan tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan menjadi bekal lahirnya generasi baru teater Kalimantan Timur.

Apresiasi juga datang dari Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur Erna Rawaty melalui Kepala Seksi Pengembangan dan Publikasi Kesenian, Sulistio Rini sebelum menutup pelatihan.

Menurut Sulistio, pelatihan ini dirancang bukan hanya untuk mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kreativitas, karakter, keberanian, dan kemampuan bekerja sama para pelajar melalui seni pertunjukan.

“Saya bangga melihat peserta mampu menyuguhkan pertunjukan yang beragam dan menarik hanya dalam waktu tiga hari. Kami berharap semangat ini tidak berhenti sampai di sini,” katanya saat menutup pelatihan.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap proses kreatif peserta, panitia juga memberikan penghargaan kepada sutradara terbaik, aktor terbaik, dan aktris terbaik berdasarkan penilaian para mentor.

Di balik suksesnya pelatihan tersebut, terdapat peran dua kurator seni Kalimantan Timur, Wuri Handayani dan Buyung Ardiansyah.

Selama tiga hari, keduanya mendampingi seluruh proses kreatif peserta, mulai dari memberikan arahan, mengevaluasi perkembangan kelompok, hingga memastikan setiap karya berkembang sesuai tujuan pelatihan.

Wuri Handayani mengatakan pelatihan teater menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal seni pertunjukan sekaligus mengembangkan kreativitas, kepercayaan diri, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama.

Baginya, proses kreatif di atas panggung tidak hanya melahirkan pertunjukan, tetapi juga membentuk karakter generasi muda.

Sementara itu, Buyung Ardiansyah menegaskan bahwa regenerasi teater tidak akan terjadi tanpa ruang belajar yang mempertemukan pengalaman para seniman dengan semangat generasi muda.

Menurutnya, tugas kurator bukan sekadar memberikan penilaian, melainkan mendampingi proses penciptaan karya secara profesional agar setiap peserta memahami bagaimana sebuah pertunjukan dibangun dari gagasan hingga menjadi tontonan yang utuh.

Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan, baik di lingkungan sekolah maupun komunitas seni, sehingga akan lahir semakin banyak karya berkualitas dari generasi muda Kalimantan Timur.

Pelatihan tahun ini diikuti oleh 60 peserta beserta guru pendamping dari 15 sekolah di Samarinda, yakni SMA Negeri 1, SMA Negeri 3, SMA Negeri 5, SMA Negeri 6, SMA Negeri 8, SMA Negeri 10, SMA Negeri 13, SMA Negeri 16, MAN 1 Samarinda, MAN 2 Samarinda, SMK Negeri 5 Samarinda, SMK Negeri 19 Samarinda, SMK WR Soepratman Samarinda, SMA Muhammadiyah Samarinda, dan SMK Labaika Samarinda.

Ketika lampu panggung akhirnya dipadamkan sore itu, yang berakhir bukan sekadar sebuah pelatihan. Di Gedung Bahimung, para seniman senior, praktisi, dan kurator baru saja menyerahkan estafet pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Dan dari tiga hari yang terasa singkat itulah, harapan baru bagi teater Kalimantan Timur mulai menemukan panggungnya. (*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *