Catatan Fachri Mahayupa: Tawa yang Tersisa di Kolong Jembatan RT Nol RW Nol Teater Mahardika Samarinda

banner 400x130

MEDIASATYA.CO.ID – Sepekan usai pertunjukan itu berakhir, yang tersisa bukan adegan perpisahan, bukan pula dialog yang lantang, melainkan satu hal yang ganjil. Tawa.

Ya, tawa yang terdengar di tengah kelaparan. Tawa yang muncul di antara kehancuran. Tawa yang, entah kenapa, justru terasa paling menyakitkan.

banner 400x130

Barangkali di situlah Teater Mahardika menemukan pintu masuknya dalam membaca ulang teks eksistensial RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang.

Bukan dari absurditas yang asing, melainkan dari kenyataan yang terlalu dekat, kira-kira begitu yang dibaca Fachri Mahayupa, praktisi Teater di Kalimantan Timur merespons pertunjukkan Teater Mahardika sepekan yang lalu.

Pertunjukan RT NOL RW NOL dibuka dengan tafsir yang cerdas sekaligus mengejutkan, Minggu (26/4/2026) di Gedung Rinjani Taman Budaya Kaltim.

“Gemuruh” yang dalam teks kerap dimaknai sebagai suara alam, petir atau kereta gandengan lewat, dipersempit menjadi sesuatu yang jauh lebih intim, yakni bunyi perut lapar Kakek.

Sebuah pilihan yang sederhana, tapi menghantam.

Di depan tungku sederhana di kolong jembatan, Kakek dan Pincang justru menertawakan suara itu. Bukan mengeluh, bukan mengutuk. Mereka tertawa.

Di titik ini, Mahardika langsung meletakkan sikapnya, bahwa bagi mereka yang hidup di luar jangkauan sistem, hiburan paling jujur adalah menertawakan nasib sendiri.

Dan anehnya, penonton ikut tertawa.

Masuknya Ani dan Ina memperluas lanskap emosi. Ejekan, sindiran, dan pertikaian kecil berkembang menjadi benturan cara pandang.

Ani dan Ina, dua perempuan yang memilih menjual tubuh itu justru tampil sebagai pihak yang paling “realistis”.

Mereka bicara soal kerja, soal uang, soal makanan yang konkret, di antaranya nasi padang, rendang, telur rebus, teh manis panas.

Sementara Kakek dan Pincang bertahan pada gagasan yang lebih abstrak, kebebasan, kebahagiaan, hidup yang tidak melulu soal materi.

Benturan ini terasa sederhana, tapi diam-diam menelanjangi sesuatu yang lebih besar.

Bagaimana sistem memaksa manusia memilih antara martabat dan perut.

Mahardika berhasil menjaga ritme adegan ini tetap hidup. Tawa, sindiran, dan ketegangan berjalan beriringan.

Bahkan ketika rahasia kecil, hubungan Ina dan Pincang mulai terbuka, perubahan suasana ditangani dengan cukup peka, terutama lewat tata bunyi yang perlahan bergeser dari jenaka menjadi ganjil.

Memasuki bagian berikutnya, pertunjukan menemukan poros konfliknya, yaitu perpisahan.

Kemunculan Bopeng menjadi titik balik. Tafsir terhadap tokoh ini patut dicatat sebagai salah satu keputusan artistik paling berani.

Dengan wig hijau dan kostum warna-warni, ia hadir sebagai pengamen yang nyaris karikatural. Namun di balik itu, tubuh dan sikapnya tetap menyimpan maskulinitas yang kuat.

Di sini, Mahardika seperti mengajukan pernyataan yang berani, bahwa keberanian tidak selalu tampak dari tubuh yang gagah, melainkan dari kesediaan merendahkan diri demi bertahan hidup.

Bopeng bukan sekadar karakter. Ia adalah pemicu.

Ketika ia membawa nasi padang dan rokok, dua kemewahan yang selama ini absen di kolong jembatan, kebahagiaan langsung meledak.

Tapi kebahagiaan itu bersyarat, ia harus dibayar dengan kepergian. Ia diterima menjadi kelasi kapal. Ia harus pergi.

Dan di sinilah Mahardika memperlihatkan kecerdikannya, kebahagiaan tidak pernah datang tanpa konsekuensi.

Rangkaian perpisahan berikutnya tidak disajikan dengan cara yang lazim.

Tidak ada tangisan panjang. Tidak ada musik yang memaksa haru. Bahkan dalam beberapa momen, penonton justru tertawa.

Seperti saat Ina, dengan kesal, mengucapkan harapan agar tak pernah bertemu lagi dengan Kakek, sebelum akhirnya memeluknya erat.

Keputusan penyutradaraan ini patut diapresiasi.

Mahardika menolak melodrama. Mereka memilih absurditas yang lebih jujur, bahwa perpisahan dalam hidup sering kali terjadi tanpa seremoni yang layak.

Puncaknya terjadi saat Pincang, yang sepanjang pertunjukan terkungkung oleh keterbatasan fisiknya, tiba-tiba berlari mengejar Ina.

Sebuah momen yang secara logika terasa ganjil, tapi secara emosional justru bekerja.

Di sinilah absurditas itu muncul, bukan sebagai keanehan, tapi sebagai kemungkinan yang tiba-tiba terbuka.

Bagian akhir pertunjukan menjadi wilayah paling sunyi.

Ketika semua tokoh perlahan pergi, Kakek tertinggal sendiri. Tawa yang sejak awal menjadi identitasnya, akhirnya retak.

Dalam adegan penutup, ia berjalan menuju jembatan, memeluk papan bertuliskan “GG 0”, lalu mengucapkan salam kepada penonton, sambil menahan air mata.

Momen ini sederhana, tapi efektif. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada klimaks yang berisik.

Hanya kesadaran yang pelan-pelan jatuh, bahwa kolong jembatan itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan alasan untuk tetap hidup.

Secara artistik, Mahardika menunjukkan keseriusan yang patut diapresiasi.

Set panggung digarap dengan detail, pilar jembatan, gubuk dari kardus dan banner politik bekas, jamban kumuh, jemuran, hingga simbol-simbol visual seperti bendera merah putih yang renggang dan lambang garuda yang terbalik.

Semua bukan sekadar dekorasi, melainkan pernyataan visual tentang kondisi sosial.

Tata cahaya juga bekerja dengan cermat, rona merah di tungku, nuansa biru malam, hingga pantulan hijau air got membentuk komposisi visual yang hidup.

Sementara Tata bunyi cukup membantu membangun suasana, meski di beberapa titik terasa terlalu dominan, seolah menambal ruang emosi yang belum sepenuhnya diisi aktor.

Dan di sinilah catatan penting itu muncul.

Kekuatan utama pertunjukan ini belum sepenuhnya bertumpu pada tubuh aktor.

Vokal, artikulasi, dan gestur masih kerap goyah. Energi yang dibangun lewat konsep dan artistik yang matang, sesekali melemah karena eksekusi permainan yang belum konsisten.

Namun demikian, Mahardika diselamatkan oleh satu hal, olah rasa.

Ada kejujuran emosi yang tetap sampai ke penonton. Ada kegelisahan yang masih terasa, meski tidak selalu terartikulasikan dengan sempurna.

Sebagai sebuah comeback setelah vakum panjang, pertunjukan ini bukan hanya layak diapresiasi, tetapi juga penting.

Mahardika tidak kembali dengan aman. Mereka memilih naskah sulit, tafsir berisiko, dan pendekatan yang menuntut keberanian.

Bagi teater pelajar di Kalimantan Timur, ini bisa menjadi pengingat, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan titik tolak untuk menemukan cara baru.

Dan mungkin, pelajaran paling penting dari pertunjukan ini justru datang dari tawa itu sendiri.

Tawa yang terdengar ringan, tapi menyimpan luka dan belum sepenuhnya selesai.

Ini adalah pernyataan.

Bahwa teater pelajar tidak harus kecil dalam gagasan.

Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk bermain aman.

Bahwa risiko estetik dan ideologis adalah bagian dari proses bertumbuh.

Namun, ada satu pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda oleh Teater Mahardika.

Aktor. Kuatkan tubuh aktor sebagai medium utama pertunjukkan.

Sebab pada akhirnya, teater bukan hanya soal apa yang ingin dikatakan, tapi bagaimana tubuh di atas panggung mampu menanggung dan menyampaikan itu dengan utuh.

Sepekan setelahnya, yang tersisa memang bukan seluruh adegan.

Hanya fragmen-fragmen kecil, seperti tawa, nasi padang, langkah yang ragu, pelukan yang setengah rela.

Dan mungkin, itu cukup.

Karena dari fragmen itulah kita tahu, Teater Mahardika belum selesai. Mereka baru saja mulai. (*)

Ditulis:

Fachri Mahayupa, Sutradara/Aktor/Penulis Teater Kalimantan Timur.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *