MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA – Ruang apresiasi bagi sineas muda di Samarinda kembali bertambah melalui kegiatan SEJAJAR (Screening Jagat Belajar) yang digelar Jagat Raya Films di Jagat Coffee, Jalan DI Panjaitan, Ruko Citown, Samarinda.
Kegiatan ini mempertemukan empat film karya mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda (POLNES) dengan penikmat film di Samarinda.
Tidak hanya menjadi ruang pemutaran, SEJAJAR juga menghadirkan pertemuan antara pembuat film, penonton, dan pemantik diskusi untuk membahas gagasan serta perspektif di balik setiap karya.
Antusiasme penonton terlihat dari banyaknya pengunjung yang hadir.
Kapasitas ruang pemutaran bahkan mengharuskan penyelenggara menyiapkan dua layar sekaligus, masing-masing di area indoor dan outdoor Jagat Coffee.
Empat film yang ditayangkan dalam kegiatan tersebut yakni Lubang yang Ditinggalkan karya sutradara Ananda Nabila Azzahra, Skala yang Berbeda karya Shofia Santoso, Masih Panjang karya Zacky Anwar, serta Sedentary karya Razzan Andrary.
Setelah pemutaran, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi film yang dipandu Navis Kipo.
Diskusi menghadirkan Arditya, M.Pd., sebagai pemantik bersama keempat sutradara untuk membicarakan proses kreatif, gagasan, dan perspektif yang dihadirkan melalui film masing-masing.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian muncul saat mendiskusikan film Lubang yang Ditinggalkan.
Arditya mengajak peserta melihat film tersebut melalui sudut pandang hermeneutika.
Menurutnya, lubang yang ditinggalkan tidak semata-mata dapat dimaknai sebagai persoalan lubang tambang dan kisah para korbannya, tetapi juga dapat dibaca sebagai gambaran ruang kosong di dalam diri manusia.
Pembacaan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah film dapat menghadirkan beragam tafsir dan membuka percakapan lebih luas antara pembuat karya dengan penontonnya.
Arditya juga menilai kegiatan screening seperti SEJAJAR dapat menjadi pemantik bagi sineas kampus di Samarinda untuk terus menghasilkan karya.
“Tugas akhir mahasiswa tidak semestinya hanya dipandang sebagai tanggung jawab akademik untuk menyelesaikan pendidikan. Lebih dari itu, tugas akhir dapat menjadi ruang kreatif dan proses penciptaan karya yang layak diperkenalkan kepada publik,” ungkapnya, Jumat (6/11/2026).
Ketua Jagat Raya Films, Heri Meiga, turut membawa semangat pertemuan karya dalam penyelenggaraan SEJAJAR.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenalkan perspektif, kreativitas, dan cerita yang lahir dari lingkungan kampus kepada masyarakat luas.
“Pertemuan karya melalui SEJAJAR menjadi bagian dari perkembangan ekosistem perfilman Samarinda, khususnya melalui keterlibatan komunitas dan sineas dari lingkungan kampus,” ucapnya.
Salah satu sutradara Jagat Raya Films, Jaya, menyambut positif kehadiran ruang tersebut.
“Ini membuktikan ekosistem film tumbuh. Kampus-kampus di Samarinda menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya juga,” ucapnya.
Sebagai informasi, Jagat Raya Films merupakan rumah produksi independen asal Samarinda yang aktif dalam produksi dan apresiasi film lokal.
Melalui SEJAJAR, Jagat Raya Films berupaya mempertemukan karya dari berbagai ruang kreatif sekaligus membuka kesempatan bagi sineas muda untuk memperkenalkan hasil karyanya kepada penonton.
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya ruang pemutaran alternatif sebagai bagian dari pertumbuhan perfilman daerah.
Sebab, keberadaan sineas dan produksi film perlu diikuti dengan ruang pertemuan agar karya dapat disaksikan, diapresiasi, dan didiskusikan bersama. (*)
















