MEDIASATYA.CO.ID — Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, H. Abdulloh masih menyempatkan diri duduk di ruang-ruang akademik.
Bukan sekadar mengejar gelar, politikus Balikpapan itu kini menempuh Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (UM), sembari memperdalam pemahaman tentang ekosistem usaha dan perdagangan global.
Selasa (12/5/2026), Abdulloh bersama puluhan mahasiswa doktoral lainnya mengikuti kunjungan industri ke Bea Cukai Malang dan produsen furnitur ekspor Giri Palma.
Kegiatan dalam mata kuliah Internasionalisasi UKM itu menjadi ruang perjumpaan antara teori manajemen, regulasi negara, dan praktik bisnis di lapangan.
Bagi Abdulloh, pengalaman tersebut bukan sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari upaya memperkuat perspektifnya sebagai legislator yang selama ini membidangi infrastruktur, investasi, energi, hingga sektor-sektor ekonomi strategis di Kalimantan Timur.
Di Bea Cukai Malang, rombongan mahasiswa mendalami regulasi fiskal dan administrasi ekspor-impor.
Sementara di Giri Palma, mereka melihat langsung bagaimana sebuah usaha tumbuh dari skala lokal hingga mampu menembus pasar internasional seperti Papua Nugini.
“Ini bukan hanya pembelajaran di kelas. Kami melihat langsung bagaimana teori bertemu praktik. Dari regulasi negara sampai bagaimana pelaku usaha membangun bisnisnya dari nol hingga mampu ekspor,” ujar Abdulloh.
Menurutnya, pemahaman seperti ini penting, terutama bagi pengambil kebijakan yang berhadapan langsung dengan isu investasi, UMKM, hingga penguatan ekonomi daerah.
Ia menilai, pembangunan daerah tidak cukup hanya dipahami dari sisi birokrasi dan politik anggaran, tetapi juga harus menyentuh realitas pelaku usaha di lapangan.
“Belajar teori tanpa praktik itu mustahil. Sebaliknya, praktik tanpa dasar teori juga membuat kita kehilangan arah. Keduanya harus seimbang,” katanya.
Sebagai Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh selama ini dikenal aktif menyoroti isu pembangunan daerah, konektivitas infrastruktur, hingga penguatan ekonomi berbasis masyarakat.
Pengalaman akademik tersebut dinilai menjadi bekal penting untuk membaca tantangan ekonomi Kaltim ke depan, terutama di tengah momentum pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan meningkatnya kebutuhan daya saing UMKM lokal.
Guru Besar FEB Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, menjelaskan bahwa kunjungan industri itu merupakan implementasi kurikulum yang menitikberatkan pada pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi kerakyatan.
“Mahasiswa doktor kami tidak hanya belajar konsep. Mereka harus memahami langsung regulasi, tantangan, dan praktik ekspor di lapangan. Karena ke depan mereka diharapkan mampu menjadi pembina UMKM di daerah masing-masing,” ujar Prof. Mia, sapaan akrabnya.
Ia bahkan menargetkan setiap mahasiswa doktor mampu mendampingi sedikitnya lima UMKM agar naik kelas dan memperluas kontribusi sektor usaha kecil terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Sementara itu, Owner Giri Palma, Made Raji Mahendra, S.E., menekankan pentingnya ketahanan mental dan strategi adaptif dalam mempertahankan usaha di tengah situasi ekonomi global yang fluktuatif.
“Ekspor itu bukan sekadar mengirim barang, tapi bagaimana membangun sistem pembayaran yang sehat dan menjaga keberlanjutan usaha,” tuturnya di hadapan peserta.
Bagi Abdulloh, pengalaman melihat langsung rantai bisnis dan dinamika ekspor tersebut menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kebijakan publik seharusnya dibangun, tidak berhenti di atas meja rapat, tetapi benar-benar memahami denyut dunia usaha dan kebutuhan masyarakat di lapangan. (Redaksi)




























