DKP3 Bontang Siapkan Revolusi Ketahanan Pangan dari Sekolah, Smartani Jadi Senjata

banner 400x130

MEDIASATYA.CO.ID – Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) menyiapkan transformasi besar dalam penguatan ketahanan pangan berbasis sekolah melalui program Smartani Goes to School.

Program tersebut dirancang tidak hanya sebagai kegiatan bercocok tanam di lingkungan sekolah, melainkan sebagai model pendidikan terintegrasi yang menghubungkan sektor pertanian, gizi keluarga, pembentukan karakter siswa, hingga penguatan ekonomi rumah tangga.

banner 400x130

Konsep itu menjadi fokus pembahasan dalam Forum Group Discussion (FGD) pemutakhiran program yang digelar di UPT Balai Benih Ikan (BBI) Kota Bontang, Sabtu, 6 Juni 2025.

Kepala DKP3 Kota Bontang, Ahmad Aznem, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari kondisi paradoks yang dihadapi Kota Bontang.

Meski memiliki produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita yang tinggi sebagai kota industri, sebagian besar kebutuhan pangan segar masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Menurut dia, ketergantungan tersebut membuat ketahanan pangan rumah tangga rentan ketika terjadi gangguan distribusi maupun fluktuasi harga pangan.

Kondisi itu juga berpotensi berdampak terhadap kualitas gizi keluarga dan meningkatkan risiko stunting pada anak-anak.

“Smartani Goes to School kemudian dirancang sebagai instrumen intervensi melalui lima pendekatan utama, yakni transformasi budaya agrikultur sejak usia dini, penguatan ekonomi keluarga, pencegahan stunting, optimalisasi aset sekolah, serta adaptasi terhadap tantangan perubahan iklim,” jelasnya.

Hidroponik Jadi Pilihan Utama

Pada tahap awal, seluruh sekolah peserta program akan menggunakan sistem hidroponik sebagai basis teknologi budidaya.

Aznem menjelaskan, pilihan tersebut dilakukan karena kondisi lahan di kawasan perkotaan industri memiliki berbagai keterbatasan, mulai dari minimnya ruang tanam, kualitas tanah yang kurang mendukung, hingga potensi pencemaran lingkungan.

Melalui hidroponik, sekolah dapat melakukan budidaya tanpa bergantung pada tanah, menggunakan air secara lebih efisien, sekaligus mengontrol kebutuhan nutrisi tanaman secara presisi.

Program ini juga diintegrasikan ke dalam konsep yang disebut sebagai “Kurikulum Berdampak”.

Dalam pendekatan tersebut, aktivitas pertanian menjadi bagian dari proses pembelajaran lintas mata pelajaran.

Saat siswa melakukan kegiatan di kebun sekolah, mereka tidak hanya belajar budidaya tanaman, tetapi juga mempraktikkan ilmu pengetahuan alam, matematika, hingga keterampilan menulis laporan.

“Keberhasilan program tidak lagi diukur dari dokumen administrasi, melainkan dari dampak nyata terhadap perubahan perilaku siswa dan keluarga mereka,” ujarnya.

Tiga Sekolah, Tiga Model Pengembangan

DKP3 menetapkan tiga sekolah dasar sebagai proyek percontohan tahap pertama dengan karakteristik pengembangan yang berbeda.

SDN 009 Bontang Utara diarahkan menjadi kawasan pertanian terintegrasi berskala besar yang menggabungkan hidroponik dengan budidaya ikan nila dan lele.

Sekolah tersebut juga diproyeksikan berkembang menjadi pusat konservasi lebah kelulut.

Sementara itu, SDN 005 Bontang Selatan yang memiliki keterbatasan lahan akan menerapkan konsep pertanian vertikal.

Dinding dan koridor sekolah akan dimanfaatkan sebagai ruang budidaya hidroponik sehingga tidak mengganggu fungsi lapangan sekolah.

Adapun SDN 002 Bontang Barat akan mengembangkan sistem hidroponik dan aeroponik portabel yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan, mengingat sekolah tersebut masih berada dalam tahap pembangunan ruang kelas baru.

Tingkatkan Fokus Belajar Anak

Selain aspek pangan, DKP3 juga mengaitkan program Smartani dengan peningkatan kualitas pembelajaran siswa.

Aznem menilai aktivitas bercocok tanam mampu memberikan stimulasi psikologis dan biologis yang berdampak positif terhadap kemampuan belajar anak.

Interaksi langsung dengan lingkungan hidup disebut dapat meningkatkan keterbukaan mental, memperkuat fokus, membentuk memori jangka panjang, serta melatih kemampuan pemecahan masalah.

Menurutnya, aktivitas tersebut juga mengajarkan nilai disiplin, kesabaran, dan kemampuan menunda kepuasan instan yang dinilai penting dalam membangun ketahanan mental generasi muda.

Didorong Mandiri Tanpa Bebani APBD

Dalam aspek pembiayaan, DKP3 menyiapkan skema kemitraan yang mengandalkan dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) melalui konsep wakaf produktif.

Model tersebut diharapkan mampu menyediakan kebutuhan investasi awal sarana dan prasarana tanpa membebani anggaran daerah.

Sementara biaya operasional rutin dirancang dapat dipenuhi melalui hasil usaha dan penjualan produk pertanian sekolah.

DKP3 bahkan telah menyusun simulasi sederhana budidaya kangkung hidroponik dengan 200 lubang tanam.

Dalam satu siklus panen sekitar 21 hingga 25 hari, potensi pendapatan kotor diperkirakan mencapai Rp405 ribu dengan keuntungan bersih sekitar Rp320 ribu setelah dikurangi biaya operasional.

Keuntungan tersebut direncanakan kembali diputar untuk modal tanam berikutnya, pemeliharaan sarana, hingga mendukung kebutuhan siswa dan sekolah.

Pasar Sudah Tersedia

Aznem menyebut sekolah tidak perlu khawatir mengenai pemasaran hasil panen. Berdasarkan pengalaman uji coba sebelumnya, produk sayuran hidroponik yang dihasilkan sekolah langsung diserap oleh guru, orang tua murid, dan masyarakat sekitar.

Ia menyebut kondisi tersebut menciptakan pasar yang sudah terbentuk atau captive market sehingga peluang keberlanjutan program dinilai cukup tinggi.

Saat ini, menurut Aznem, antusiasme sekolah-sekolah lain di Kota Bontang untuk mengikuti program serupa juga terus meningkat.

Ia optimistis Smartani Goes to School dapat menjadi instrumen untuk menekan risiko stunting sekaligus mencetak generasi yang lebih mandiri, melek teknologi, dan memiliki ketahanan ekonomi sejak dini. (Redaksi)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *