Diklatsar Menwa Mulawarman Kaltim: 10 Hari Menyalakan Karakter, Bukan Sekadar Baris-Berbaris

banner 400x130

MEDIASATYA.CO.ID – Di halaman luas Batalyon 611 Awang Long, Loa Janan, Samarinda, udara pagi 1 Desember 2025 terasa berbeda.

Teriakan komando, derap langkah, dan raut penuh semangat dari 30 mahasiswa yang membentuk satu pleton tampak menyatu dalam ritme yang seragam.

banner 400x130

Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih besar sedang dipupuk: cara berpikir baru tentang apa artinya menjadi seorang Resimen Mahasiswa (Menwa).

Diklatsar Menwa Mulawarman Kalimantan Timur resmi digelar

Selama sepuluh hari ke depan, peserta dari Universitas Mulia Balikpapan, Universitas Widyagama, hingga Stiper Sangatta Kutai Timur akan ditempa dengan pola pendidikan yang dirancang bukan hanya untuk kekuatan fisik, tetapi juga keluasan pandang dan kepekaan zaman.

Komandan Resimen Mahasiswa Mulawarman Kaltim, Abdul Rais, menyebut pendidikan dasar ini sebagai pijakan penting untuk menghidupkan kembali atmosfer Menwa di kampus-kampus.

“Ini menjadi dasar pijakan awal untuk melakukan pendidikan secara aktif kembali di semua perguruan tinggi di Kaltim,” kata Komandan Resimen Mahasiswa Mulawarman Kalimantan Timur, Abdul Rais.

Ia menekankan bahwa lulusan Diklatsar ini kelak menjadi contoh yang akan menarik minat mahasiswa lain untuk berkembang, baik di Senat Mahasiswa, DPM, maupun unit kegiatan mahasiswa lainnya.

Menurutnya, wajah Menwa hari ini harus berubah. Bukan model lama yang melekat dengan stigma kedisiplinan kaku semata.

“Menwa harus lebih humanis, adaptif, merangkul, dan mampu berkolaborasi dengan seluruh kegiatan UKM,” ujarnya.

Abdul Rais yang juga Ketua IARMI Kaltim menegaskan bahwa zaman berubah terlalu cepat untuk dipandang dengan cara lama.

Ia menolak anggapan bahwa Menwa hanya berkutat pada baris-berbaris, upacara, atau sisi bela negara.

Justru sebaliknya, insan Menwa harus punya pikiran terbuka, mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Abdul Rais mencontohkan, jika mahasiswa menyukai bidang IT, Menwa harus hadir sebagai pelopor, seperti membuat perlombaan, program, atau pelatihan di bidang teknologi yang relevan.

Lulusan Diklatsar nantinya diharapkan dapat menambah jumlah anggota agar kualitas dan kuantitas Menwa tetap terjaga.

Melakukan latihan fisik dan materi untuk meningkatkan kemampuan anggota, hingga kegiatan kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat

“Mengadakan seminar-seminar ketahanan nasional, ancaman terhadap generasi muda dan kegiatan sosialisasi program pemerintah lainnya,” tuturnya.

Sementara pengabdian di Lingkungan Kampus, bisa dilakukan dalam hal melatih siswa di Sekolah Dasar, SMP, SMA sekitar kampus untuk melaksanakan upacara hari-hari nasional secara mandiri.

Menwa juga tak lepas dari pengembangan organisasi dan kemitraan.

Ditegaskan Rais, sepuluh hari Diklatsar ini bukan sekadar latihan kedisiplinan. Ia adalah ruang tumbuh: tempat karakter, kepedulian, dan daya cipta dibentuk sejak pijakan pertama.

Di balik keringat yang mulai menetes di pagi itu, ada keyakinan baru bahwa Menwa generasi kini sedang menata ulang masa depannya, lebih inklusif, lebih cerdas, dan lebih siap beradaptasi. (Redaksi)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *