Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah
“TK Pembina Gunung Tabur baru mendapat plakat sekolah ramah anak, sekaligus berhasil mendapat rujukan nasional sekolah ramah anak untuk kategori TK/PAUD karena memiliki fasilitas-fasilitas yang menjadikannya layak menjadi sekolah ramah anak.”
MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong terciptanya lingkungan yang ramah anak melalui berbagai sektor, mulai dari pendidikan, keagamaan hingga fasilitas publik.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau, Rabiatul Islamiah, mengungkapkan bahwa hampir separuh dari sekolah-sekolah di Berau, mulai dari jenjang TK hingga SMA, telah memenuhi standar sebagai sekolah ramah anak.
Ia menyebutkan salah satu pencapaian yang membanggakan adalah keberhasilan TK Pembina Gunung Tabur yang ditetapkan sebagai sekolah rujukan nasional untuk kategori TK/PAUD.
“TK Pembina Gunung Tabur baru mendapat plakat sekolah ramah anak, sekaligus berhasil menjadi rujukan nasional karena fasilitasnya sangat mendukung kenyamanan dan keselamatan anak,” ungkap Rabiatul, Sabtu (5/7/2025).
Selain dunia pendidikan, beberapa rumah ibadah di Berau juga mulai mengadopsi konsep ramah anak dengan menyediakan fasilitas yang menunjang kenyamanan dan aktivitas anak selama berada di lingkungan ibadah.
“Rumah ibadah juga sudah mulai menyesuaikan. Beberapa persen di antaranya sudah kita jadikan ramah anak,” tambahnya.
Sementara itu, untuk ruang publik, saat ini baru terdapat satu ruang bermain anak yang dinyatakan memenuhi kriteria ramah anak, yakni di Jalan Milono, tepat di samping Kantor Perpustakaan Daerah Berau.
Rabiatul berharap akan ada evaluasi menyeluruh terhadap taman dan ruang publik lainnya agar bisa mengikuti jejak tersebut.
“Ke depan kita harapkan ruang-ruang bermain anak lainnya juga dapat dinilai dan dievaluasi agar bisa memenuhi standar ramah anak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa meski target besar sudah dirancang, pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran daerah.
“Target kita menjadikan seluruh sekolah, rumah ibadah, dan ruang publik menjadi lingkungan yang ramah anak. Tapi tentu akan berjalan bertahap sesuai dengan kondisi keuangan daerah,” tutupnya. (Redaksi/Git)




























