MEDIASATYA.CO.ID – Lonjakan tarif impor yang menekan rantai pasok global diperkirakan akan membuat inflasi konsumen Amerika Serikat terus merangkak naik sepanjang sisa 2025.
Para ekonom Wall Street menilai dampak penuh dari tarif baru itu belum sepenuhnya dirasakan, meski data inflasi terbaru tampak masih jinak.
Goldman Sachs memproyeksikan tekanan inflasi akibat tarif akan semakin terasa dalam beberapa bulan mendatang.
Prediksi ini sejalan dengan pandangan sejumlah ekonom yang melihat stok barang pra-tarif mulai habis, tarif efektif melonjak, dan perusahaan kian enggan menanggung beban biaya tambahan.
“Tarif bisa memangkas 1% dari PDB dan menambah inflasi 1%–1,5%, sebagian sudah terjadi,” ujar Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di JPMorgan Chase, dikutip dari CNBC International.
Ia menambahkan, kenaikan tarif tahun ini jauh lebih besar dibanding pengalaman AS pasca-Perang Dunia II, sehingga sulit memprediksi seberapa besar beban tersebut akan diteruskan ke konsumen.
Ketegangan politik pun memanas. Presiden Donald Trump pada Selasa mengecam Goldman Sachs atas riset yang menyebut konsumen akan terkena dampak tarif lebih besar hingga akhir tahun.
Namun, Ekonom Goldman Sachs David Mericle membela analisanya dan menegaskan perusahaan tidak gentar menghadapi kritik tersebut. (Redaksi)
MEDIASATYA.CO.ID, BALIKPAPAN - Di tengah kabar gaji pekerja proyek RDMP Balikpapan yang belum terbayar hingga…
MEDIASATYA.CO.ID - Di tengah ketatnya ruang fiskal APBD 2026, satu isu yang tampaknya tak bisa…
MEDIASATYA.CO.ID — Lampu-lampu panggung di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Bontang kembali menyala. Tirai…
MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Abissia Bike mengadakan kegiatan Berau Night Ride pada Jumat malam (30/1/2026). Lebih…
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh “Kegiatan usaha, terutama pertambangan, tidak boleh berjalan dengan mengorbankan…
MEDIASATYA.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang memanggil penyanyi Aura Kasih untuk dimintai keterangan…