Oleh Sigit Pamungkas, jurnalis MediaSatya.com
Seni bukan hanya karya mewah di tempat megah, namun bisa berasal dari rasa yang menggugah. Seperti kata George Sand, Seniman Prancis yang mengatakan “Panggilan seniman adalah mengirim cahaya ke dalam hati manusia”. Barangkali itulah semangat dan tekad Teater Bumi Berau, yang bukan hanya sebatas organisasi semata, namun menjelma sebuah gerakan untuk memberdayakan talenta seni teater kalangan pelajar yang ada di Berau selama puluhan tahun bergulir.
DIDIRIKAN sekitar tahun 2000-an, meski sudah ditinggal oleh banyak pendirinya terdahulu, eksistensi Teater Bumi masih terjaga hingga saat ini.
Hal itu membuktikan bahwa di tengah keterbatasan yang mereka miliki, impian memajukan teater seni masih tersimpan di benak para punggawa Teater Bumi.
Di Berau pada mulanya kegiatan teater seni hanya terbatas sekolah jadi pemeran maupun audiensi hanya dari lingkup tertentu.
Lalu Sahar, salah satu inisiator Teater Bumi dan rekannya berinisiasi menyatukan teater-teater sekolah tersebut menjadi ajang unjuk gigi juga pembinaan, hingga lahirlah “Teater Bumi” ini.
Tongkat estafet keberlanjutan Teater Bumi kini dikomandoi oleh Achmad, dibantu rekan-rekannya yaitu Arman Dahlan, Gisul, Sune, Adiat, dan Jinsit.
Keenam orang inilah yang menjaga asa dan eksistensi Teater Bumi di Berau tetap ada.
Jauh sebelum wabah covid-19 melanda seluruh dunia, Teater Bumi seringkali menggelar pertunjukan teater di tiap tahunnya. Hingga pada akhirnya, covid-19 membatasi ruang gerak dan meredupkan semangat sebagian anggotanya.
Meski sempat mati suri karena hal itu ditambah minimnya peminat, pelan-pelan Teater Bumi lekas bangun dari tidur panjangnya. Dalam 2 tahun terakhir, Teater Bumi mulai menggeliat dengan membuat pagelaran seni, AKSARA (Ajang Kreasi Seni dan Sastra) judulnya.
Harus diakui di kabupaten paling utara Kalimantan Timur ini sangatlah minim gedung pertunjukan apalagi gedung seni. Yang ada hanyalah gedung serbaguna dengan segala keterbatasannya.
Hal itulah juga menjadi kendala utama yang dialami Teater Bumi selama ini, lantaran peran tempat cukup vital sebagai latar utama yang menjaga pilar keberlangsungan selama pertunjukan digelar.
Bersyukur kali ini SMA Negeri 4 Berau bersedia meminjamkan gedung aula yang mereka miliki. Gedung aula sederhana itu disulap menjadi ruang pertunjukan oleh anggota Teater Bumi.
Kerap kali kewalahan perihal persiapan pagelaran, dalam AKSARA, Teater Bumi dibantu kelompok pelajar yang terlibat dalam kepanitiaan.
Hebatnya, pelajar yang terlibat dalam kepanitiaan AKSARA juga merupakan peserta yang tampil dan kompetitif dalam festival yang diperlombakan.
Mulai dari dekorasi panggung, tata letak, pencahayaan, konsumsi juga hal tak kalah krusial lainnya. Distribusi proposal juga merupakan bagian dari peran siswa itu.
Hasilnya ada beberapa proposal yang tembus ke pihak swasta dan mereka bersedia membantu keberlangsungan acara.
Jelas ini sangat membantu mengingat dalam pagelaran sebelumnya, dana yang dikumpulkan merupakan hasil kongsi dari anggotanya sendiri.
Meski digelar di aula sederhana yang memiliki daya tampung kurang dari 60 orang. Tak sedikitpun menyurutkan antusiasme dari peserta secara keseluruhan.
Raut wajah pemainnya selalu menunjukkan totalitas ketika di atas panggung, juga riuh tepuk tangan penonton di tiap selesai penampilan.
Juri utama yang diundang juga tak main-main, mereka mendatangkan sosok Fachri Mahayupa, praktisi teater Kaltim yang sudah melalang buana selama 20 tahun di bidang seni teater Indonesia.
Tak hanya sebagai penilai, juri utama turut diminta untuk berbagi ilmu dan pengalamannya yang berpindah dari panggung ke panggung melalui workshop.
Ilmu yang disampaikan sutradara muda Kaltim dengan prestasi mulai dari sekup lokal, regional, nasional bahkan internasional itu diharapkan menjadi bekal penting yang didapat seniman pelajar, pelatih dan pembina kesenian teater di Berau, Kalimantan Timur.
Dari situ bisa dilihat bukti keseriusan Teater Bumi untuk menggarap Teater AKSARA yang genap memasuki tahun ke-8 ini.
AKSARA diadakan bukanlah tanpa tujuan, melainkan ikut andil membantu menyiapkan bakat seni utamanya monolog dan puisi, supaya bisa terkurasi dan dikirim pihak sekolah ke ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) sebagai perwakilan daerah.
Ajang yang cukup bergengsi ini merupakan kompetisi untuk mengirim talenta daerah untuk bersaing dengan daerah lain di tingkat Provinsi bahkan Nasional.
Tentu ini bukan hanya semata-mata untuk kepuasan pribadi para anggota Teater Bumi. Melainkan ikut berkontribusi menyiapkan talenta-talenta mana yang laik dijagokan mewakili belahan bumi yang mereka tempati.
Berikut hasil AKSARA 2025:
Aktor Terbaik
Teater Angin (WANCI) : Aktor Terbaik 1
Teater Aswara (TOLONG): Aktor Terbaik 2
Teater Vokal (MARSINAH MENGGUGAT) : Aktor Terbaik 3
Penata Rias dan Busana Terbaik:
Teater AIR (PRODO)
Penata Latar & Setting Terbaik :
Teater Air (PRODO)
Penata Cahaya Terbaik :
Teater Angin (WANCI)
Penata Bunyi Terbaik :
Teater Vokal (Marsinah Menggugat)
Sutradara Terbaik :
Teater Air (PRODO)
Penyaji Terbaik :
Teater Angin (WANCI)
Dalam waktu dekat Teater Bumi juga memiliki rencana mengadakan Pekan Apresiasi Teater (PAT), mengusung konsep yang berbeda dari AKSARA ini.
Supaya bukan jadi isapan jempol belaka, hal itu bisa saja terlaksana hanya jika mendapat dukungan dari pemerintah juga pihak swasta.
Selaku Ketua Teater Bumi, Achmad juga meyakini bahwa seniman yang ada di ujung Bumi Etam ini tidaklah berjumlah sedikit, hanya saja belum ada tempat yang menaunginya.
“Sebenarnya banyak talenta seniman di Berau ini namun karena belum adanya gedung yang layak maka impian untuk berkarya di daerah sendiri hanyalah angan-angan,” ujar pria yang kerap disapa Abel itu.
Di tengah keterbatasan yang mereka miliki, asa untuk menghidupkan teater seni di Berau bukanlah hal mudah, meski sesekali redup mereka tetap menjaganya untuk hidup.
Lewat Teater Bumi kita belajar bukan hanya tentang menginspirasi, tetapi juga tentang belajar memahami arti keberagaman, kebersamaan, kerja sama, dan pengabdian. Teater Bumi kini tak hanya jadi ruang tumbuh bagi tiap anggotanya tapi juga berdampak ke sesama. (Sigit Pamungkas)
MEDIASATYA.CO.ID, BALIKPAPAN - Di tengah kabar gaji pekerja proyek RDMP Balikpapan yang belum terbayar hingga…
MEDIASATYA.CO.ID - Di tengah ketatnya ruang fiskal APBD 2026, satu isu yang tampaknya tak bisa…
MEDIASATYA.CO.ID — Lampu-lampu panggung di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Bontang kembali menyala. Tirai…
MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Abissia Bike mengadakan kegiatan Berau Night Ride pada Jumat malam (30/1/2026). Lebih…
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh “Kegiatan usaha, terutama pertambangan, tidak boleh berjalan dengan mengorbankan…
MEDIASATYA.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang memanggil penyanyi Aura Kasih untuk dimintai keterangan…