Jutawan China Ramai-ramai Hengkang Tinggalkan Singapura

MEDIASATYA.CO.ID – Para jutawan asal China yang bermukim di Singapura, dikabarkan ramai-ramai meninggalkan negara tetangga Republik Indonesia itu.

Kasus pencucian uang senilai SG$3 miliar pada 2023, yang dikenal sebagai “Fujian case”, membuat otoritas memperketat aturan serta menyeleksi ulang klien-klien kaya.

“Ketika kasus Fujian mencuat, banyak orang kaya asal China hengkang. Hampir semuanya pindah ke Hong Kong, Timur Tengah, maupun Jepang,” ujar Ryan Lin, Direktur Bayfront Law di Singapura.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) juga memperketat aturan terkait aset kripto. Mulai 2025, setiap platform yang menawarkan produk kripto hingga tokenized equities ke luar negeri wajib berlisensi, dengan syarat modal minimum SG$250 ribu serta kepatuhan AML dan manajemen risiko teknologi.

“Aturan baru itu membuat para pelaku kripto hengkang. Hampir semua klien kami di sektor ini sudah angkat kaki,” kata Lin.

MAS menegaskan, skandal pencucian uang tidak mengubah standar regulasi mereka. “Singapura menyambut kekayaan yang sah, dan kami bekerja sama dengan lembaga keuangan untuk memastikan praktik yang sehat, efektif, dan efisien,” ujar juru bicara MAS.

Menurut Iris Xu, pendiri Jenga, lembaga jasa korporasi bagi klien China, efek domino kasus Fujian serta kegagalan besar seperti Three Arrows Capital dan FTX memicu pembersihan agresif oleh perbankan. Bank melakukan uji tuntas ulang, menutup rekening, hingga menolak aplikasi family office, membuat klien merasa kehilangan akses.

“Hal ini menghancurkan kesabaran dan kepercayaan klien,” kata Xu. “Kalau tidak diberi rekening, di mana mereka bisa berbisnis? Akhirnya dana mereka dipindahkan ke Jepang, Hong Kong, dan Dubai.”

Hambatan juga muncul di bidang imigrasi. Pemohon permanent residence maupun family office diwajibkan menjalani pemeriksaan mendalam, termasuk mengungkap detail keluarga yang dianggap terlalu invasif.

“Dari perspektif mereka, muncul pertanyaan: Apakah saya harus mendeklarasikan anak di luar nikah hanya untuk mengelola kekayaan di Singapura?” tambah Lin.

Data Henley & Partners memperkirakan arus masuk orang kaya ke Singapura turun drastis pada 2025. Hanya 1.600 jutawan yang diperkirakan masuk, jauh di bawah 3.500 orang pada 2024. (Redaksi)

Redaksi

Redaksi Media Satya News

Recent Posts

Genap 62 Tahun: Abdulloh Fokus Mengabdi, Bursa Wali Kota Balikpapan Menanti

MEDIASATYA.CO.ID — Usia 62 tahun bukan sekadar penanda perjalanan hidup. Bagi Abdulloh, usia yang genap…

1 minggu ago

Dari Penyidik hingga Pengajar Polri, Brigjen Yustan Alpiani Kini Jadi Kapolda Lampung

Kapolda Lampung, Brigjen Pol Yustan Alpiani Tugas sebagai Kapolda mencakup upaya menjaga keamanan dan ketertiban…

2 minggu ago

Seni di Era AI Jadi Bahasan di Universitas Terbuka Samarinda, Fachri Mahayupa: Carilah Makna

MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA — Puluhan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Samarinda mengangkat telepon genggam mereka hampir bersamaan,…

2 bulan ago

Abdulloh Bergerak ke BPH Migas, DPRD Kaltim Perjuangkan Tambahan Kuota Pertalite

MEDIASATYA.CO.ID — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sering kali tidak berhenti di SPBU. Di…

2 bulan ago

Tio: Biliar Mirip Politik! Yang Dipukul di Sini Bisa Masuk di Sana

MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA — Meja biliar menjadi titik temu wartawan, mitra media, dan pegiat olahraga dalam…

2 bulan ago

Abdulloh Dorong Bandara Kalimarau Berau Naik Kelas, Jadi Gerbang Wisata Internasional Kaltim

MEDIASATYA.CO.ID – Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Abdulloh, mendorong peningkatan status Bandara Kalimarau di…

3 bulan ago