MEDIASATYA.CO.ID — Usia 62 tahun bukan sekadar penanda perjalanan hidup.
Bagi Abdulloh, usia yang genap pada 16 Oktober 2026 itu juga menandai perjalanan panjang seorang politikus yang tumbuh bersama dinamika politik Balikpapan, dari anggota legislatif hingga dipercaya memimpin DPRD kota selama dua periode.
Kini, setelah melangkah ke tingkat provinsi sebagai Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), nama Abdulloh kembali menjadi perbincangan.
Ia mulai diperhitungkan dalam bursa figur potensial yang diproyeksikan memimpin Balikpapan pada masa mendatang.
Bukan tanpa alasan. Pengalaman panjang di lembaga legislatif, basis konstituen yang besar, serta pengenalan terhadap persoalan masyarakat menjadi modal politik yang melekat pada sosok politikus Partai Golkar tersebut.
Di tengah perubahan Balikpapan sebagai kota industri dan jasa yang terus berkembang, kematangan pengalaman menjadi salah satu aspek yang membuat perjalanan politik Abdulloh menarik untuk dicermati.
Namun, ketika ditanya mengenai peluangnya menuju kursi wali kota, Abdulloh tidak terburu-buru memberikan jawaban yang mengarah pada pencalonan.
Ia justru berulang kali menegaskan masih ingin berfokus menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat di DPRD Kaltim, khususnya memperjuangkan kepentingan masyarakat Balikpapan yang diwakilinya.
“Untuk saat ini fokus saya mengabdi dan bekerja di parlemen mewakili aspirasi dan dukungan warga Balikpapan,” ucapnya.
Sikap itu menjadi penegasan bahwa, setidaknya untuk saat ini, pekerjaan di parlemen masih menjadi prioritasnya.
Perjalanan Panjang di Politik Balikpapan
Abdulloh bukan sosok yang baru mengenal denyut politik Kota Minyak.
Karier legislatifnya dimulai ketika terpilih sebagai anggota DPRD Balikpapan periode 2009–2014. Pada periode tersebut, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi III.
Kepercayaan politik yang diperolehnya berlanjut pada dua periode berikutnya.
Abdulloh menjabat Ketua DPRD Balikpapan pada 2014–2019 dan kembali dipercaya menduduki posisi yang sama pada 2019–2024.
Dua periode memimpin parlemen kota menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya.
Posisi tersebut menuntut kemampuan mengelola dinamika antarfraksi, membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, serta menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan.
Pengalaman itu pula yang membentuk rekam jejak Abdulloh sebagai politikus yang cukup lama berkecimpung dalam pengambilan keputusan di tingkat kota.
Pada Pemilu 2024, Abdulloh melanjutkan karier politiknya ke tingkat provinsi.
Ia terpilih sebagai anggota DPRD Kaltim dari daerah pemilihan Balikpapan dengan perolehan 48.180 suara.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator kekuatan elektoralnya.
Besarnya perolehan suara itu menunjukkan modal politik yang patut diperhitungkan.
Kini, Abdulloh dipercaya menjadi Ketua Komisi III DPRD Kaltim, dengan ruang lingkup kerja yang berkaitan dengan infrastruktur, lingkungan hidup, dan energi.
Bidang-bidang tersebut bersinggungan langsung dengan tantangan pembangunan Balikpapan, mulai dari kebutuhan infrastruktur hingga pengelolaan dampak aktivitas industri terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kematangan Usia, Pengalaman, dan Tantangan Kota
Memasuki usia 62 tahun, Abdulloh berada pada fase kehidupan politik yang ditandai oleh pengalaman panjang di lembaga perwakilan rakyat.
Pengalaman tersebut memberinya bekal untuk memahami bagaimana kebijakan disusun, anggaran diperjuangkan, dan kepentingan masyarakat dinegosiasikan dalam proses pemerintahan.
Dalam konteks kepemimpinan daerah, kematangan tidak semata-mata ditentukan oleh usia.
Ia juga berkaitan dengan kemampuan membaca persoalan, mengambil keputusan, membangun kerja sama, dan mempertanggungjawabkan kebijakan kepada masyarakat.
Rekam jejak Abdulloh di DPRD Balikpapan selama tiga periode, termasuk dua periode sebagai ketua dewan, menjadi bagian dari pengalaman yang dapat diperhitungkan ketika publik membicarakan calon pemimpin kota pada masa mendatang.
Balikpapan sendiri menghadapi tantangan pembangunan yang tidak sederhana.
Pertumbuhan ekonomi, kebutuhan infrastruktur, persoalan lingkungan, pelayanan publik, dan kualitas hidup warga membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kepentingan masyarakat.
Pengalaman Abdulloh di parlemen dapat menjadi modal untuk memahami persoalan tersebut dari perspektif kebijakan dan pengawasan.
Namun, pengalaman legislatif tentu berbeda dengan tanggung jawab eksekutif.
Memimpin pemerintahan kota menuntut kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi program, mengelola birokrasi, menentukan prioritas anggaran, serta memastikan kebijakan benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena itu, rekam jejak panjang Abdulloh menjadi modal awal yang menarik untuk dicermati, sekaligus menjadi dasar bagi publik untuk menilai bagaimana kapasitas kepemimpinannya berkembang.
Dekat dengan Konstituen, Menjaga Kepercayaan
Selain pengalaman di parlemen, kekuatan Abdulloh juga tidak dapat dilepaskan dari basis konstituennya di Balikpapan.
Perolehan 48.180 suara pada Pemilu 2024 menjadi gambaran dukungan elektoral yang berhasil diraihnya.
Bagi seorang politikus yang telah lama berkecimpung di tingkat kota, basis dukungan tersebut merupakan modal penting untuk menjaga relevansi politik.
Citra merakyat dan kedekatan dengan masyarakat juga menjadi bagian dari penilaian terhadap figur yang hendak memimpin daerah.
Namun, kedekatan itu pada akhirnya harus terus dibuktikan melalui konsistensi dalam menyerap aspirasi, memperjuangkan kepentingan warga, dan mengawal penyelesaian persoalan di lapangan.
Bagi Abdulloh, tantangan tersebut kini berada dalam lingkup tugasnya sebagai wakil rakyat di tingkat provinsi.
“Saya memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan kota tetap mendapat perhatian dalam pembahasan kebijakan dan anggaran di tingkat provinsi,” ujarnya.
Di sinilah perjalanan politiknya memasuki babak baru.
Ia tidak lagi bekerja hanya dalam lingkup pemerintahan kota, tetapi juga harus menghubungkan kepentingan Balikpapan dengan kebijakan pembangunan yang cakupannya lebih luas.
Belum Bicara Pencalonan
Di tengah namanya yang mulai diperbincangkan dalam bursa calon Wali Kota Balikpapan, Abdulloh memilih menempatkan pekerjaannya saat ini sebagai prioritas.
Ketika awak media menanyakan kemungkinan langkah politiknya ke depan, ia selalu menegaskan masih fokus menjalankan tugas sebagai wakil rakyat yang mewakili masyarakat Balikpapan di DPRD Kaltim.
Sikap tersebut membuat peluang politiknya ke depan tetap terbuka untuk dibicarakan, tetapi belum dapat dipastikan sebagai keputusan pencalonan.
Dalam politik, popularitas, pengalaman, dan basis suara memang menjadi modal penting.
Namun, perjalanan menuju pemilihan kepala daerah juga ditentukan oleh keputusan partai politik, dukungan koalisi, dinamika kompetisi, dan penerimaan masyarakat.
“Bagi masyarakat, yang terpenting bukan semata-mata ke mana seorang politikus akan melangkah, melainkan sejauh mana ia menunaikan tanggung jawab yang sedang diembannya,” tuturnya.
Bertambah Usia, Berlanjut Pengabdian
Pada 16 Oktober 2026, Abdulloh genap berusia 62 tahun.
Sebuah perjalanan yang telah membawanya melewati berbagai fase politik, dari anggota DPRD Balikpapan hingga menjadi Ketua DPRD selama dua periode, sebelum kini menjalankan tugas di DPRD Kaltim.
Pengalaman panjang itu membuat namanya memiliki tempat tersendiri dalam percakapan mengenai masa depan kepemimpinan Balikpapan.
Kematangan usia, rekam jejak politik, dan basis konstituen menjadi modal yang membuat Abdulloh layak diperhitungkan.
Namun, modal tersebut tetap perlu disertai pembuktian melalui kinerja, gagasan pembangunan, serta kemampuan menjawab kebutuhan masyarakat.
Untuk saat ini, ia memilih tetap bekerja di parlemen.
Dan mungkin, di situlah ukuran paling relevan dari perjalanan politiknya pada usia ke-62, bukan seberapa cepat ia berbicara tentang jabatan berikutnya, melainkan seberapa jauh ia mampu menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya hari ini.
Sebab, jika suatu hari Balikpapan kembali memanggilnya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar, rekam jejak pengabdian itulah yang akan menjadi salah satu pertimbangan terpenting. (*)
Kapolda Lampung, Brigjen Pol Yustan Alpiani Tugas sebagai Kapolda mencakup upaya menjaga keamanan dan ketertiban…
MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA — Puluhan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Samarinda mengangkat telepon genggam mereka hampir bersamaan,…
MEDIASATYA.CO.ID — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sering kali tidak berhenti di SPBU. Di…
MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA — Meja biliar menjadi titik temu wartawan, mitra media, dan pegiat olahraga dalam…
MEDIASATYA.CO.ID – Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Abdulloh, mendorong peningkatan status Bandara Kalimarau di…
MEDIASATYA.CO.ID – Harapan masyarakat Kabupaten Paser untuk memiliki bandara akhirnya kembali menemukan titik terang. Setelah…