Berita Terbaru

IKN Nusantara Punya 10 Titik Rawan Banjir

MEDIASATYA.CO.ID – Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang sebagai simbol masa depan Indonesia, kota modern, cerdas, dan berkelanjutan.

Namun geliat pembangunan di Kalimantan Timur tak bisa dilepaskan dari tantangan alamiah kawasan tropis, terutama risiko banjir.

Sejarah fluktuasi air di Kalimantan dan temuan titik rawan banjir di wilayah calon ibu kota menuntut pendekatan jauh lebih inovatif agar IKN tidak mengulang kesalahan Jakarta.

Untuk itu, Otorita IKN menggandeng para ahli dari Monash University, Australia, guna menerapkan konsep sponge city atau kota tanggap air.

Konsep yang berkembang di Australia sejak 1990-an itu telah diuji keberhasilannya dalam mengatasi banjir dan kekeringan di berbagai kota dunia.

Profesor Tony Wong dari Monash University menjelaskan bahwa inti konsep tersebut adalah memanfaatkan infrastruktur hijau yang meniru proses alami seperti filtrasi, drainase, dan penyimpanan air.

Ia menilai metode ini telah mentransformasi berbagai kota lewat inovasi desain infrastruktur dan tata kelola air.

Di IKN, konsep itu diterapkan melalui pembangunan lahan basah, saluran air dangkal, serta perkerasan berpori.

Infrastruktur tersebut berfungsi membersihkan air hujan melalui biofiltrasi sekaligus mengurangi risiko banjir dan kontaminasi lingkungan.

Pelatihan yang didukung Bank Pembangunan Asia (ADB) dan pemerintah Australia juga diberikan untuk memperkuat kapasitas pejabat Otorita IKN dalam merancang kota yang lebih tangguh terhadap krisis air dan perubahan iklim.

10 Titik Rawan Banjir

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Harold Pantouw, mengakui adanya potensi banjir di IKN.

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana BNPB 2020–2024, terdapat 10 titik rawan banjir yang tersebar di Kecamatan Samboja, Muara Jawa, hingga Sepaku.

Wilayah seperti Teluk Dalam, Bukit Raya, Sungai Seluang, Muara Jawa Ulu, Samboja Kuala, Bumi Harapan, Mentawir, Suka Raja, Wonosari, dan Tengin Baru tercatat masuk kategori risiko tinggi.

Troy menyampaikan bahwa potensi banjir tersebut dipicu oleh beberapa faktor, seperti tata ruang yang belum optimal, curah hujan tinggi, kenaikan muka air laut, hingga pembukaan lahan di hulu sungai.

Otorita IKN, menurutnya, telah menempuh berbagai langkah pencegahan mulai dari penyusunan rekomendasi kebijakan dalam dokumen kajian risiko, evaluasi tata ruang, pemantauan tutupan lahan, pembangunan infrastruktur pengendali banjir, hingga rehabilitasi lahan dengan tanaman berdaya serap tinggi.

Ia menambahkan bahwa relokasi warga dapat menjadi opsi terakhir jika keamanan masyarakat di area rawan terancam.

Smart Water Management System

Untuk memenuhi visi smart forest city, Otorita IKN juga menerapkan Smart Water Management System (SWMS) yang diperkuat dengan sensor Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan Early Warning System (EWS) demi mendeteksi potensi banjir secara dini.

Troy menjelaskan bahwa pemetaan aliran sungai dan analisis topografi didukung teknologi GIS, serta kerja sama dengan BMKG untuk prediksi curah hujan.

Seluruh sistem ini telah terhubung dengan Integrated Command and Control Center (ICCC) sejak akhir 2024.

Selain itu, Otorita IKN mengaplikasikan konsep Zero Delta Q agar tidak terjadi penambahan debit air ke sungai, serta Water Sensitive Urban Development (WSUD) sebagai bagian dari pengembangan kota sensitif air.

Reforestasi dan Konservasi Satwa

Langkah mitigasi banjir juga diperkuat lewat reforestasi lahan kritis.

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Myrna Asnawati Safitri, menyebut lebih dari 3.000 hektar lahan telah direforestasi hingga Oktober 2025.

Target tahun ini adalah penambahan 1.000 hektar sehingga capaian total mencapai 4.000 hektar.

Menurutnya, dukungan signifikan pihak swasta mempercepat pemulihan vegetasi dan pembentukan koridor ekologi yang mendukung keanekaragaman hayati.

IKN juga memperhatikan konservasi satwa liar, termasuk orangutan. Myrna menjelaskan bahwa kawasan Samboja Lestari ditetapkan sebagai hotspot keanekaragaman hayati dan menjadi lokasi rehabilitasi orangutan oleh tiga organisasi termasuk Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Integrasi Manusia, Alam, dan Teknologi

Profesor Diego Ramírez-Lovering dari Monash University menekankan bahwa keberhasilan IKN bergantung pada integrasi harmonis antara manusia, alam, dan lingkungan buatan.

Ia memandang IKN sebagai laboratorium masa depan tempat teknologi dan ekosistem saling memperkuat.

Dengan kombinasi konsep sponge city, sistem pemantauan banjir canggih, reforestasi masif, dan konservasi satwa, Otorita IKN menargetkan pembangunan kota yang lebih aman, berketahanan, dan berkelanjutan. (Redaksi)

Redaksi

Redaksi Media Satya News

Recent Posts

Respons Abdulloh Soal Isu Gaji Pekerja RDMP Balikpapan: Proyek Besar Tak Boleh Abaikan Hak Buruh

MEDIASATYA.CO.ID, BALIKPAPAN - Di tengah kabar gaji pekerja proyek RDMP Balikpapan yang belum terbayar hingga…

3 minggu ago

Perjuangan Abdulloh Kawal Pembangunan Bank Darah RSUD Kanujoso Balikpapan: Kesehatan Warga Utama

MEDIASATYA.CO.ID - Di tengah ketatnya ruang fiskal APBD 2026, satu isu yang tampaknya tak bisa…

4 minggu ago

Denyut Kesenian di Bontang: 10 Teater Pelajar Kaltim dan Perayaan Proses Bernama AKSARA

MEDIASATYA.CO.ID — Lampu-lampu panggung di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Bontang kembali menyala. Tirai…

1 bulan ago

Pesepeda Ramaikan Jalan Berau Lewat Abissia Bike Gelar Berau Night Ride

MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Abissia Bike mengadakan kegiatan Berau Night Ride pada Jumat malam (30/1/2026). Lebih…

1 bulan ago

DPRD Kaltim Sidak Tambang Singlurus, Abdulloh: Pastikan Hak Warga Samboja Tak Hilang

Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh “Kegiatan usaha, terutama pertambangan, tidak boleh berjalan dengan mengorbankan…

1 bulan ago

KPK Panggil Aura Kasih? Telusuri Dana Non-Budgeter Kasus Korupsi yang Seret Ridwan Kamil

MEDIASATYA.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang memanggil penyanyi Aura Kasih untuk dimintai keterangan…

3 bulan ago