MEDIASATYA.CO.ID — Lampu-lampu panggung di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Bontang kembali menyala.
Tirai dibuka, suara langkah kaki bergema dan kursi-kursi penonton menjadi saksi. Seni teater pelajar di Kalimantan Timur belum kehilangan nyawanya.
Selama empat hari, sejak Kamis (5/2/2026) hingga Minggu (8/2/2026), panggung itu bukan sekadar ruang pertunjukan.
Ia berubah menjadi ruang pertemuan, ruang adu gagasan, sekaligus ruang belajar yang sunyi namun penuh letupan.
Di atasnya, sepuluh komunitas teater pelajar tampil membawa dunia masing-masing, dengan tubuh, suara, cahaya, musik, dan keberanian yang terus diasah.
Ajang Kreasi Seni Teater Pelajar (AKSARA) 2026 yang digelar Sanggar Seni KitaKita hadir sebagai penanda bahwa teater bukan hanya milik kota besar.
Bontang, sekali lagi, membuktikan diri sebagai rumah yang bersedia menerima energi anak-anak muda yang ingin bicara lewat panggung.
Mengusung tema “Muda Berkarya, Dunia Bersuara”, AKSARA 2026 menjadi ruang bagi pelajar se-Kaltim untuk membuktikan bahwa suara generasi muda tidak selalu harus lahir dari podium atau media sosial.
Kadang, suara itu lahir dari dialog naskah, dari gerak yang ditahan, dari tatapan yang panjang, dari musik yang tiba-tiba sunyi.
Ketua Panitia AKSARA 2026, Joni Hermanto, menyebut pelaksanaan tahun ini melalui proses yang tidak mudah.
Perubahan agenda hingga gejolak teknis sempat menjadi tantangan. Namun, semua itu justru membentuk suasana festival yang lebih intim.
Ia menegaskan, AKSARA tidak hanya bertujuan melahirkan juara, tetapi menjadi ruang temu bagi komunitas teater pelajar di Kalimantan Timur.
“Kami ingin AKSARA 2026 di Bontang ini menjadi pertemuan teman-teman teater pelajar di Kaltim. Tentunya kami akan mengakomodir dan berusaha semaksimal mungkin untuk menampung karya-karya dalam mengungkapkan ekspresi mereka,” ucapnya.
Sementara itu, Pembina Sanggar Seni KitaKita sekaligus penanggung jawab kegiatan, Apris Triatmoko, menekankan bahwa AKSARA adalah ruang silaturahmi.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menular, agar komunitas lain turut berani menghidupkan teater di Bontang.
“Kami senang bisa melayani teman-teman semua. Silahkan dinikmati dan mohon maaf bila ada kekurangan. Semoga AKSARA 2026 ini menjadi pemicu untuk teman-teman komunitas menggelar pementasan teater, supaya bisa lebih hidup lagi kegiatan seni kita di sini,” katanya.
Di panggung yang sama, sepuluh karya pelajar dipertontonkan. Bukan sekadar pementasan, melainkan hasil dari latihan panjang, dari ruang kelas yang disulap jadi studio, dari keringat latihan malam, dari debat kecil tentang blocking dan tempo, sampai keberanian untuk tampil meski belum sempurna.
Sepuluh peserta yang tampil dalam AKSARA 2026 yakni Teater Sketsa (SMAN 1 Bontang), Teater Vidatra (SMA YPVDP Bontang), Teater Rawit (SMAN 16 Samarinda), Teater Tanpa Nama (SMKN 2 Bontang), Teater Warna (SMK TI Labbaika Samarinda), Teater Tirta (SMKN 1 Marangkayu), Teater KitaKita (SMKN 1 Bontang), Sanggar Seni Pobasis (SMAN 2 Berau), Teater Samudera (SMAN 1 Muara Badak), serta Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda).
Festival ini memang menyediakan penghargaan seperti Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Tata artistik Terbaik hingga tiga penyaji terbaik.
Namun AKSARA 2026 seperti ingin menegaskan satu hal, bahwa penghargaan hanya penutup seremoni, sedangkan proses adalah napas utama.
Di balik tepuk tangan penonton, terdapat perjalanan panjang yang tidak terlihat. Sebab dalam teater, kemenangan sejatinya bukan ketika piala diangkat, melainkan ketika pelajar berani melewati rasa takut dan tetap memilih naik panggung.
Di tengah jalannya festival, hadir tiga dewan juri yang telah lama bergelut di dunia teater, yakni Irwan Darmansyah (Wawan Timur), Fachri Mahayupa, serta Drs. W. Untung Raharjo (Pakde Untung).
Salah satu juri, Fachri Mahayupa, menyampaikan pesan yang menohok sekaligus menguatkan. Yang paling penting adalah terus berproses.
“Percayalah, menang dan kalah, keduanya sama-sama menanggung beban besar. Terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah menyuguhkan karyanya. Jangan berhenti untuk berproses,” ujar Direktur Artistik BELAJAR TEATER Samarinda.
Pada akhirnya, AKSARA 2026 bukan sekadar festival. Ia adalah catatan bahwa pelajar di Kalimantan Timur masih memiliki ruang untuk tumbuh, berani, dan saling menguatkan lewat seni.
Dan ketika lampu panggung akhirnya padam, yang tersisa bukan hanya daftar pemenang, melainkan semangat yang mungkin akan menyala lebih lama.
Ya, semangat untuk kembali latihan, kembali menulis naskah, kembali gagal, lalu kembali tampil. Sebab di teater, proses selalu lebih penting daripada hasil. (*)
Berikut Daftar Pemenang AKSARA 2026:
– Penata Make-up Kostum Terbaik: Teater Samudera (SMAN 1 Muara Badak)
– Penata Musik Terbaik: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
– Penata Cahaya Terbaik: Teater Tirta (SMKN 1 Marangkayu)
– Penata Panggung Terbaik: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
– Aktris Pembantu Perempuan Terbaik: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
– Aktris Terbaik: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
– Aktor Pembantu Laki-laki Terbaik: Teater Samudera (SMAN 1 Muara Badak)
– Aktor Terbaik: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
– Sutradara Terbaik: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
– Penyaji Terbaik 3: Teater KitaKita (SMKN 1 Bontang)
– Penyaji Terbaik 2: Teater Tanpa Nama (SMKN 2 Bontang)
– Penyaji Terbaik 1: Teater Dahana (SMAN 1 Samarinda)
MEDIASATYA.CO.ID, BALIKPAPAN - Di tengah kabar gaji pekerja proyek RDMP Balikpapan yang belum terbayar hingga…
MEDIASATYA.CO.ID - Di tengah ketatnya ruang fiskal APBD 2026, satu isu yang tampaknya tak bisa…
MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Abissia Bike mengadakan kegiatan Berau Night Ride pada Jumat malam (30/1/2026). Lebih…
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh “Kegiatan usaha, terutama pertambangan, tidak boleh berjalan dengan mengorbankan…
MEDIASATYA.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang memanggil penyanyi Aura Kasih untuk dimintai keterangan…
MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Dewan Pengupahan Kabupaten Berau telah menyepakati penyesuaian Upah Minimum Kabupaten (UMK) untuk…