Berita Terbaru

Dari Perbatasan Nunukan ke Samarinda, Puang Dirham Ubah Lapas Jadi Ruang Harapan

MEDIASATYA.CO.ID – Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, Puang Dirham mencoba menghadirkan wajah pemasyarakatan yang berbeda.

Bukan sekadar tempat penghukuman, melainkan ruang pemulihan, pembelajaran, dan harapan baru bagi manusia yang pernah tersesat.

Ya, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Narkotika Kelas IIA Samarinda, jabatan itu melekat pada sosok Puang Dirham, A.Md.IP., S.Sos., M.M saat ini.

Di lingkungan pemasyarakatan Kalimantan, nama Puang Dirham perlahan dikenal bukan hanya sebagai birokrat, tetapi juga sosok yang membawa gagasan-gagasan progresif tentang bagaimana lapas seharusnya dijalankan.

Kariernya berliku dari daerah perbatasan hingga pusat kota.

Sebelum memimpin Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Puang Dirham pernah menjabat Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan, wilayah strategis di perbatasan Indonesia-Malaysia yang dikenal memiliki tantangan tinggi terkait peredaran narkotika dan mobilitas lintas negara.

Namun di tangan Puang Dirham, Nunukan tak hanya menjadi cerita tentang pengamanan dan hukuman.

Ia justru membangun pendekatan yang lebih manusiawi melalui program pembinaan berbasis produktivitas.

Salah satu warisan paling menonjol adalah lahirnya SAE Lanuka, Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Nunukan.

Program itu berkembang menjadi simbol perubahan wajah pemasyarakatan.

Di kawasan tersebut, warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman. Mereka diajak bercocok tanam, beternak, membangun keterampilan kerja, hingga menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih sehat.

Konsep SAE Lanuka bahkan berkembang menjadi ruang edukasi publik yang perlahan mengikis stigma lapas sebagai tempat gelap dan tertutup.

Di sana terdapat urban farming, peternakan ayam petelur, kawasan pembinaan produktif, hingga fasilitas edukatif yang melibatkan masyarakat sekitar.

Puang Dirham pernah menyebut gagasan itu sebagai upaya merajut asa di balik tembok penjara.

Sebuah pemikiran yang lahir dari keyakinannya bahwa manusia tidak boleh selamanya dikubur dalam stigma masa lalu.

Cara pandang itulah yang membuat kepemimpinannya dianggap berbeda.

Ia tidak semata melihat warga binaan sebagai narapidana, tetapi sebagai manusia yang masih memiliki peluang untuk diperbaiki.

Pendekatan tersebut kemudian membentuk kultur pembinaan yang lebih terbuka, dialogis, dan produktif.

Saat dipercaya memimpin Lapas Narkotika Samarinda, pola kepemimpinan itu kembali terlihat.

Di tengah kompleksitas persoalan lapas narkotika, mulai dari overkapasitas, jaringan narkoba, hingga tantangan rehabilitasi, Puang Dirham mencoba memperkuat konsep pembinaan yang terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Ia mendorong pengembangan program ketahanan pangan, pelatihan keterampilan kerja, hingga penguatan dapur produksi berbasis program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Warga binaan dilibatkan dalam rantai produksi dan pembelajaran kerja agar memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat.

Bagi Puang Dirham, lapas tidak boleh hanya menjadi tempat menjalani hukuman tanpa arah.

Pemasyarakatan harus mampu memulihkan rasa percaya diri dan memberi keterampilan hidup.

Pemikiran itu tercermin dalam berbagai langkah yang ia bangun, mulai dari menghadirkan lapas yang lebih humanis, produktif, sekaligus adaptif terhadap kebutuhan sosial di luar tembok penjara.

Di Samarinda, citra Puang Dirham pun berkembang sebagai figur pemasyarakatan yang aktif membangun komunikasi publik.

Ia tidak jarang tampil dalam forum sosial, pembinaan warga binaan, hingga program kolaborasi lintas sektor.

Di mata banyak orang, Puang Dirham bukan sekadar kepala lapas.

Ia adalah simbol perubahan kecil tentang bagaimana negara bisa memperlakukan manusia dengan lebih bermartabat, bahkan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan.

Di tengah kerasnya stigma terhadap narapidana, ia memilih membangun harapan.

Dan dari balik jeruji itulah, Puang Dirham mencoba menunjukkan bahwa pemasyarakatan sejatinya bukan tentang mengurung manusia, melainkan mengembalikan manusia kepada kehidupannya. (*)

Redaksi

Redaksi Media Satya News

Recent Posts

Rakernis Pusjarah Polri 2026, Penguatan Nilai Sejarah dan Tribrata Jadi Fokus Utama

MEDIASATYA.CO.ID — Pusat Sejarah atau Pusjarah Polri menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) di Jakarta sebagai…

11 jam ago

Catatan Fachri Mahayupa: Tawa yang Tersisa di Kolong Jembatan RT Nol RW Nol Teater Mahardika Samarinda

MEDIASATYA.CO.ID - Sepekan usai pertunjukan itu berakhir, yang tersisa bukan adegan perpisahan, bukan pula dialog…

1 minggu ago

Peringati Hari Kartini, Abissia Bike Ajak Perempuan Berau Gowes Sambil Berkebaya

MEDIASATYA.CO.ID - Senja di Berau pada Minggu (19/4) berlangsung sedikit berbeda dari biasanya. Alih-alih menghabiskan…

3 minggu ago

Abdulloh dan Jalan Menjaga Kaltim Tetap Damai di Tengah Gelombang Aksi 21 April

MEDIASATYA.CO.ID - Di tengah riuh rencana aksi besar yang akan digelar pada 21 April 2026,…

4 minggu ago

Jelang Aksi 21 April, Abdulloh Tegaskan LMP Kaltim Siap Jaga Kondusifitas Bersama TNI-Polri

MEDIASATYA.CO.ID - Ketua Markas Daerah Laskar Merah Putih (LMP) Kalimantan Timur, H. Abdulloh, menegaskan komitmen…

4 minggu ago

Jalan Salib Hidup OMK Berau: Ketika Iman Dihidupkan di Atas Panggung

MEDIASATYA.CO.ID - Halaman Gereja St. Eugenius de Mazenod di Tanjung Redeb tak sekadar menjadi tempat…

1 bulan ago