MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA — Puluhan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Samarinda mengangkat telepon genggam mereka hampir bersamaan, Minggu (6/9/2026) di Aula Lantai II Kampus.
Bukan untuk memotret panggung atau sekadar membuka media sosial, melainkan untuk melakukan sebuah eksperimen sederhana, yakni menciptakan puisi menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Mereka diminta memikirkan satu kata di dalam benak masing-masing. Satu kata yang personal. Satu kata yang mewakili sesuatu yang sedang mereka pikirkan atau rasakan.
Kata itu kemudian dimasukkan ke aplikasi AI melalui sebuah prompt.
Dalam hitungan detik, sebuah karya lahir.
Puisi muncul di layar masing-masing mahasiswa, tersusun rapi dalam bait-bait dengan pilihan kata yang tampak puitis.
Teknologi menunjukkan betapa mudahnya sebuah gagasan sederhana diolah menjadi bentuk karya.
Salah seorang mahasiswi, Tri, memilih kata “resah”.
Ia kemudian membacakan puisi yang dihasilkan AI tersebut di hadapan peserta.
Puisi itu terdengar rapi. Bahkan cukup indah untuk sebuah karya yang lahir hanya dari satu kata dan sebuah perintah singkat.
Namun, justru di situlah persoalannya dimulai.
Apakah AI benar-benar memahami keresahan yang dimaksud Tri? Apakah kata-kata yang tersusun dalam puisi itu benar-benar mewakili pikiran dan perasaan Tri? Atau AI hanya mengolah pola bahasa tentang bagaimana manusia biasanya menulis sesuatu yang disebut “resah”?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuka penyampaian materi Fachri Mahayupa, selaku speaker dalam kegiatan Harmoni Awal 2026 UKM Seni dan Musik Universitas Terbuka Samarinda.
Forum berlangsung aktif dan atraktif. Dialog tidak berhenti pada pola satu arah antara pembicara dan peserta.
Mahasiswa dilibatkan langsung untuk mengalami persoalan yang kemudian menjadi inti pembahasan.
Eksperimen kecil dengan AI tersebut sekaligus menjadi pintu masuk menuju pertanyaan penting, untuk apa menjadi seniman.
Pertanyaan itu kemudian dibawa Fachri Mahayupa, yang merupakan sutradara teater Kalimantan Timur dalam materi bertajuk “Seni, AI, Algoritma dan Pencarian Makna.”
Direktur Artistik Belajar Teater Samarinda itu tidak memulai pembahasannya dengan definisi seni atau teori estetika.
Ia justru mengajak mahasiswa melihat perubahan yang sedang terjadi di sekitar mereka.
Menurutnya, hari ini teknologi memungkinkan seseorang membuat gambar, musik, tulisan, video hingga puisi hanya dengan perangkat yang berada di genggaman.
Batas antara seniman, kreator dan pengguna teknologi pun semakin cair.
Jika dahulu keterampilan teknis menjadi salah satu pembeda penting seorang pekerja seni, kini sebagian proses tersebut dapat dibantu bahkan diambil alih oleh teknologi.
“Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar apakah seseorang mampu membuat karya, melainkan mengapa karya itu dibuat,” ujar Fachri Mahayupa, yang juga alumnus Teater Yupa Unmul.
Di titik tersebut, Fachri Mahayupa mengajak mahasiswa melihat kembali posisi manusia dalam proses kreatif.
AI dapat menyusun kata tentang kehilangan, membuat gambar tentang kesepian, menghasilkan musik tentang kerinduan.
Namun, apakah mesin pernah mengalami kehilangan? Apakah mesin pernah menunggu seseorang pulang? Apakah mesin pernah merasakan resah?
“Pertanyaan itu menjadi penting karena seni tidak hanya berbicara mengenai bentuk. Seni juga berhubungan dengan pengalaman manusia yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya,” ucapnya.
Eksperimen yang dilakukan Tri dan mahasiswa lainnya menunjukkan paradoks tersebut.
Sebuah puisi bisa lahir dengan cepat dan tampil sangat rapi. Tetapi kerapian bentuk belum tentu sama dengan kedalaman pengalaman.
Teknologi mampu membantu manusia menemukan bentuk. Namun, alasan mengapa bentuk itu harus dilahirkan tetap menjadi pertanyaan yang harus dijawab manusia.
Bagi Fachri Mahayupa, persoalan tersebut tidak harus dilihat sebagai pertentangan antara seni dan teknologi.
Teknologi dapat menjadi alat. AI dapat menjadi medium. Platform digital dapat menjadi ruang distribusi.
“Tetapi seniman tetap perlu memiliki sesuatu yang lebih mendasar, yakni kepekaan, pengalaman, gagasan dan keberanian untuk mengatakan sesuatu,” tegasnya.
Menurutnya, mahasiswa yang baru memasuki dunia organisasi seni juga diajak untuk tidak terburu-buru mencari gaya.
Mereka justru perlu mencari kegelisahan.
Mencari pertanyaan. Mencari sesuatu yang terus mengganggu pikiran.
Sebab karya yang personal tidak selalu lahir dari kemampuan teknis yang paling tinggi. Ia bisa lahir dari pengalaman yang tidak bisa dipinjamkan kepada orang lain.
Dalam konteks itu, kelompok seni kampus tidak semata-mata dipandang sebagai tempat berlatih atau mencari panggung.
“Kelompok seni dapat menjadi laboratorium untuk belajar gagal, menerima kritik, bekerja bersama, berdebat, mendengar, mengulang proses dan bertanggung jawab terhadap gagasan,” ujarnya.
Di sanalah mahasiswa tidak hanya belajar membuat pertunjukan, tetapi juga belajar menemukan cara melihat dunia.
Kegiatan Harmoni Awal 2026 UKM Seni dan Musik ini turut diwarnai berbagai penampilan seni mahasiswa. Sejumlah performance art ditampilkan, mulai dari monolog, tari, musik etnik, paduan suara hingga band.
Ragam pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa seni hadir melalui banyak medium dan bentuk.
Di tengah perkembangan teknologi yang membuat proses produksi karya semakin mudah, tantangan seorang seniman mungkin justru menjadi semakin sulit.
“Bukan lagi sekadar bagaimana membuat sesuatu. Tetapi bagaimana membuat sesuatu yang memiliki alasan untuk hadir,” serunya.
Ketika mesin semakin pandai menghasilkan bentuk, manusia ditantang untuk semakin serius mencari makna.
Untuk diketahui, selain para mahasiswa, kegiatan tersebut juga dihadiri Manager Pembelajaran, Ernayanti Nur Widhi S.T MA sekaligus dosen Universitas Terbuka.
Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Harmoni Awal 2026. Menurutnya terlibat dalam organisasi mahasiswa merupakan suatu pengalaman, yang kelak menjadi bekal ketika mahasiswa masuk ke dalam dunia kerja.
“Kalian patut berbangga diri turut serta dalam kegiatan mahasiswa. Ini bakal jadi bekal untuk menatap dunia kerja di masa depan,” ucapnya saat memberikan sambutan di awal kegiatan. (Redaksi)
MEDIASATYA.CO.ID — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sering kali tidak berhenti di SPBU. Di…
MEDIASATYA.CO.ID, SAMARINDA — Meja biliar menjadi titik temu wartawan, mitra media, dan pegiat olahraga dalam…
MEDIASATYA.CO.ID – Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Abdulloh, mendorong peningkatan status Bandara Kalimarau di…
MEDIASATYA.CO.ID – Harapan masyarakat Kabupaten Paser untuk memiliki bandara akhirnya kembali menemukan titik terang. Setelah…
MEDIASATYA.CO.ID – Tepuk tangan panjang menggema di Gedung Bahimung UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur,…
MEDIASATYA.CO.ID – Di tengah dominasi kelompok teater dari Pulau Jawa dan kota-kota besar Indonesia, sebuah…