Berita Terbaru

Harga Sawit di Kaltim Meningkat, Persaingan Pabrik Untungkan Petani Swadaya di Berau

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, Lita Handini

“Harga TBS di Kaltim saat ini ditetapkan secara kolaboratif dan ditentukan setiap dua minggu sekali di tingkat provinsi”

MEDIASATYA.CO.ID, BERAU – Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan tren positif dan semakin menguntungkan bagi petani swadaya.

Menurutnya, dinamika harga tersebut dipicu oleh persaingan antar Pabrik Kelapa Sawit (PKS), khususnya di wilayah Tabalar, Berau, setelah beroperasinya sejumlah pabrik tanpa kebun inti, seperti PT Pesona Sawit Abadi (PSA).

“Harga TBS di Kaltim saat ini ditetapkan secara kolaboratif dan ditentukan setiap dua minggu sekali di tingkat provinsi,” ujar Lita, Senin (10/11/2025).

Penetapan harga sawit di Kaltim dilakukan melalui forum bersama yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi, dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Disbun kabupaten/kota se-Kaltim, Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), hingga Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia).

“Saat ini harga TBS berada di kisaran Rp2.900 hingga Rp3.200 per kilogram, angka yang cukup baik dan menguntungkan bagi petani,” terangnya.

Lita menilai, kehadiran PKS tanpa kebun inti memberi dampak positif bagi petani swadaya karena menciptakan persaingan harga yang sehat. Dengan lebih banyaknya pembeli potensial, petani memiliki keleluasaan untuk menjual hasil panen ke perusahaan dengan harga terbaik.

“PKS yang baru beroperasi memicu persaingan positif antar pabrik, dan ini menguntungkan petani,” tambahnya.

Lita menjelaskan, petani kelapa sawit swadaya kini memiliki akses lebih luas terhadap pasar. Mereka tidak lagi bergantung pada satu perusahaan, sehingga posisi tawar menjadi lebih kuat.

“Perbedaan harga memang ada, tapi selisihnya sekitar Rp200 per kilogram dari harga acuan provinsi,” jelasnya.

Kondisi ini juga berdampak pada wilayah sekitar seperti Tabalar hingga Biatan, di mana harga sawit cenderung stabil di level tinggi berkat persaingan antar pabrik.

Meski demikian, Lita mengingatkan bahwa petani yang telah bermitra dengan perusahaan tetap wajib mengikuti kesepakatan harga sesuai perjanjian yang telah ditetapkan. Namun bagi petani nonmitra, situasi ini memberikan manfaat langsung dari mekanisme pasar terbuka.

“Petani yang tidak bermitra bisa menikmati dampak positif dari kompetisi ini, karena harga jual mereka menjadi lebih kompetitif,” pungkasnya. (Redaksi)

Redaksi

Redaksi Media Satya News

Recent Posts

Dari Samarinda ke Panggung Nasional, Teater Dahana Bawa Nama Kalimantan ke FTRN ISI Yogyakarta

MEDIASATYA.CO.ID – Di tengah dominasi kelompok teater dari Pulau Jawa dan kota-kota besar Indonesia, sebuah…

1 minggu ago

Pentas Tahunan Teater Kacamata: ‘Benar Itu Kalah’ Menggugat Luka Korupsi dan Kemiskinan

MEDIASATYA.CO.ID – Bagaimana jika kejujuran justru menjadi pihak yang kalah? Pertanyaan itu menjadi benang merah…

1 minggu ago

Abdulloh Jadi Saksi Lahirnya Layanan Jantung Modern di Balikpapan: Jawaban Kebutuhan Rakyat

Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh "Kemudahan administrasi, kecepatan penanganan pasien, kenyamanan fasilitas, serta transparansi…

3 minggu ago

Tragedi 53 Korban Lubang Tambang di Kaltim, Abdulloh Desak Perbaikan Total Tata Kelola

MEDIASATYA.CO.ID - Tragedi lubang bekas tambang batu bara di Kalimantan Timur yang kembali menelan korban…

1 bulan ago

DKP3 Bontang Siapkan Revolusi Ketahanan Pangan dari Sekolah, Smartani Jadi Senjata

MEDIASATYA.CO.ID – Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) menyiapkan transformasi…

1 bulan ago

Transformasi Kultural Tata Kelola Pelayanan Haji Indonesia

Prof. Singgih Tri Sulistiyono Guru Besar Sejarah Maritim Universitas Diponegoro, Fakultas Ilmu Budaya dan anggota…

1 bulan ago